Tuesday, November 15, 2016

Kisah Syaikh Muhammad al-Ghazali

Sumber: http://liputanislam.com/wp-content/uploads/2014/06/syeikh-al-azhar.jpg
Ulama sekaligus dai produktif asal Mesir yang wafat tahun 1996, Syaikh Muhammad al-Ghazali bercerita, “Seorang wanita berpakaian ‘tak pantas’ masuk ke kantorku. Aku sedikit risih saat melihat penampilannya pertama kali. Namun dari tatapan matanya ia tampak sedih dan kebingungan. Wanita ini patut dikasihani, pikirku. Aku pun duduk, mendengarkan keluh-kesah yang ia sampaikan kepadaku dengan seksama.
Dari sela-sela obrolan tersebut aku tahu bahwa wanita itu adalah pemudi Arab yang mengeyam pendidikan di Prancis, dan nyaris tak mengenal sedikitpun tentang Islam, agama yang ia peluk. Kepadanya, aku berusaha menerangkan hakikat Islam, menjawab sejumlah syubhat dan pertanyaan yang ia ajukan. Serta mengungkap berbagai kedustaan yang disampaikan para orientalis.
Tak lupa pula aku sampaikan terkait peradaban modern yang kerap memposisikan wanita sebagai ‘daging’ pemuas nafsu, yang tak mengenal keindahan, ketenangan, dan makna ‘iffah di dalam keluarga. “Izinkan aku suatu hari untuk kembali ke tempat ini menemuimu, Syaikh,” ujar sang wanita. Ia pun mohon pamit keluar.
Tak lama berselang seorang pemuda berpenampilan religius masuk membentakku, “Apa yang membuat wanita kotor seperti itu datang kemari!?”
Aku jawab, “Tugas seorang dokter adalah menyembuhkan orang yang sakit sebelum orang sehat.”
Ia menyela, “Kenapa kau tak menasehatinya memakai hijab!?”
Aku katakan, “Perkara yang dihadapi wanita tadi jauh lebih besar dari sekadar memakai atau melepas hijab. Ada proses yang harus dilalui, terkait esensi iman kepada Allah dan Hari Kiamat, menegaskan makna taat kepada wahyu yang tertuang dalam al-Quran dan as-Sunnah, serta pilar-pilar inti agama ini dalam aspek ibadah dan akhlak.”
Lagi-lagi ia memotong pembicaraanku. “Bukankah hal-hal tersebut sama sekali bukan halangan bagimu untuk menyuruhnya berhijab!?”
Dengan tenang aku berupaya menjelaskan, bahwa aku tak bisa berbahagia melihat wanita itu datang ke sini sedangkan hatinya sunyi dari keagungan Allah Tuhan yang Maha Esa, hidupnya tak mengenal yang namanya rukuk dan sujud. Sesungguhnya aku sedang berupaya menanam di hatinya sejumlah pondasi yang jika pondasi itu tertancap dengan kuat, dengan sendirinya membuat ia sadar pentingnya menutup aurat.
Saat pemuda tadi hendak memotong pembicaraanku untuk yang kesekian kalinya, aku berkata dengan tegas, “Aku tak mampu menarik orang kepada Islam melalui selembar kain sebagaimana yang kerap kalian lakukan. Namun aku berusaha menancapkan pondasi, lalu memulai membangun di atasnya, dan menyampaikan semuanya dengan penuh hikmah.”
Dua minggu kemudian wanita itu kembali mendatangiku dengan pakaian yang lebih baik dari sebelumnya. Ia menutup kepalanya dengan secarik kain tipis. Ia kembali bertanya tentang Islam, dan akupun kembali menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Lantas aku bertanya, “Mengapa kau tak pergi ke masjid terdekat dari rumahmu (untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini)?”
Meski akhirnya aku menyesal mananyakan hal ini, karena aku teringat bahwa wanita-wanita itu terlarang untuk pergi ke masjid. Namun pemudi itu menjawab, “Aku membenci para dai dan tak ingin mendengarkan ceramahnya.”
“Mengapa?” tanyaku penuh penasaran.
“Hati mereka keras, berwatak kasar. Mereka memperlakukanku dengan pandangan penuh kehinaan.”
Tiba-tiba aku teringat sosok Hindun bintu Utbah, istri Abu Sufyan Ra. Seorang wanita yang di masa kekufurannya membunuh secara sadis serta memakan jantung paman Nabi Sayyidana Hamzah Ra. Saat itu dia belum mengenal Rasulullah Saw. Namun setelah memeluk Islam dan mengenal Rasulullah Saw., ia mendekat dan mengucapkan sebuah kalimat yang menggetarkan hati:
يا رسول الله, والله ما كان على ظهر الأرض أهل خباء أحب أن يذلوا من أهل خبائك, وما أصبح اليوم على ظهر الأرض أهل خباء أحب إلي أن يعزوا من أهل خبائك
“Wahai Rasulullah, Demi Allah, dahulu tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka terhina kecuali penghuni rumahmu. Namun sekarang tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka mulia selain penghuni rumahmu.”
Sungguh cahaya cinta dan kasih sayang yang terpancar dari hati Rasulullah Saw. sanggup mengubah kondisi hati setiap orang yang melihatnya. Maka apakah para dai hari ini telah belajar dari sosok Nabinya, sehingga mereka menjadi dai yang menyatukan, bukan justru memecah-belah? Menjadi dai yang memberikan kabar gembira, bukan justru membuat orang-orang lari dari agama? (Disarikan dari kitab al-Haqq al-Murr (Kebenaran yang Pahit) hal. 23 karya Syaikh Muhammad al-Ghazali).

Sumber: http://www.muslimedianews.com/2016/11/kisah-syaikh-muhammad-al-ghazali-dengan.html

Thursday, August 25, 2016

Counting Period Between Two Dates

Here is sample code C# to count period between two dates:

Console.WriteLine("Enter start date: YYYY/MM/DD");
string s_startDate = Console.ReadLine();
Console.WriteLine("Enter end date: YYYY/MM/DD");
string s_endDate = Console.ReadLine();
DateTime startDate = Convert.ToDateTime(s_startDate);
DateTime endDate = Convert.ToDateTime(s_endDate);

//Add 1 day because of including the first day
endDate = endDate.AddDays(1);

double countMonth = (endDate.Month + endDate.Year * 12) - (startDate.Month + startDate.Year * 12);

//The divisor, I used 30 (option), you can use total days of the month if needed;
double months = countMonth + ((double)(endDate.Day - startDate.Day) / 30);
            
//Rounding into 2 decimals
decimal result = Math.Round((decimal)months, 2);
Console.WriteLine();
Console.WriteLine("Total of Period: " + result.ToString());
Console.ReadKey();

Tuesday, April 12, 2016

Install Acumatica versi 5.2 di Windows 10

Acumatica sekarang sudah merilis versi terbarunya yakni versi 5.3 dengan berbagai versi minornya. Versi 5.3 ini pun dapat kita install dengan mudah di Windows 10 (tanpa ada issue dengan catatan IIS sudah diaktifkan). Namun ketika kita dihadapkan pada kondisi development dilakukan diversi sebelumnya (misalkan 5.2), issue baru muncul ketika kita melakukan instalasi aplikasi acumatica di Windows 10. Jika dilihat error yang muncul, installer Acumatica membutuhkan versi IIS 7 atau lebih, padahal Windows 10 sudah dibekali dengan IIS yang lebih tinggi yakni IIS versi 10.

Jika Anda mengalami masalah serupa yakni tidak bisa melakukan instalasi Acumatica versi 5.2 di Windows 10, Anda dapat mencoba solusi berikut:

  1. Download Orca tool disini.
  2. Buka file installler Acumatica versi 5.2 yang tidak bisa diinstall menggunakan Orca tool (Klik kanan file installer_Acumatica > Open with Orca).
  3. Setelah window Orca muncul, pada bagian Launch Condition, hapus entry IISVERSION >="#7"; system does a string comparison and "10" is smaller than "7".
  4. Kemudian save file dan tutup Orca.
  5. Sekarang Anda bisa mencoba kembali dengan running setup installer Acumatica.
Video terkait:

Semoga bermanfaat.