Monday, April 7, 2014

Kematian

Categories:

Mencoba bercerita seputar kematian, sebuah pelajaran yang cukup menarik yang saya dapat setelah membaca buku “Psikologi Kematian”, karya Komaruddin Hidayat. Sengaja memang saya tulis di blog ini, salah satunya karena dapat saran dari salah seorang teman kuliah untuk membuat sinopsis dari buku tadi.

Kematian. Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata kematian? Sudah siap menghadapi kematian? Atau takut menghadapi kematian? Atau malah tidak mau membahas soal kematian?

Beragam istilah muncul sebagai pengganti kata kematian ini sendiri, yang sebenarnya (bagi orang yang beragama), arti kematian ini merujuk ke 1 makna yakni kembali/berpulang kepada Sang Pencipta. Nah, ada 1 kata yang menarik dari makna tadi, yaitu kembali/pulang. Banyak orang pasti sependapat kalau paling menyenangkan itu ketika ‘mendengar’ kata pulang. Lihat saja anak kecil, mereka paling senang ketika sudah saatnya pulang sekolah. Jangankan anak kecil, orang dewasa pun, entah yang masih kuliah atau yang sudah kerja, kebanyakan pasti senang ketika tiba saatnya pulang. Bahkan tidak jarang juga, ada orang yang baru saja masuk kuliah/kerja tapi pikirannya sudah memikirkan pulang. Lantas kenapa memaknai pulang itu menjadi berbeda ketika berbicara pulang kepada Sang Pencipta?

Kebanyakan orang tidak siap menghadapi kematian salah satunya karena berat meningggalkan dunia. Makanya tidak heran ada sebagian orang yang ingin hidup di dunia seribu tahun lagi. Hal ini dikarenakan usia manusia di dunia yang tidak sebanding dengan berbagai macam keinginannya yang cenderung bergerak dinamis. Hasilnya, tidak semua keinginan ketika hidup di dunia dapat diwujudkan.

Kita tentu sering mendengar bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar, bahkan saking sebentarnya ada yang mengibaratkan seperti orang yang istirahat sejenak untuk minum ketika dalam sebuah perjalanan panjang. Namun apa yang terjadi jika kita minum terlalu banyak? Tidak lain dan tidak bukan tentu akan membuat kita berat untuk melanjutkan perjalanan. Begitu pula dengan hidup ini. ketika seseorang masih sangat terikat kuat dengan bagasi duniawi, tentu akan semakin berat juga untuk terbang menuju Sang Ilahi.

Beda hal lagi bagi sebagian orang yang melihat kematian sebagai awal kehidupan yang indah nan abadi. Bagi mereka, tidak ada hal yang perlu ditakutkan atau dikhawatirkan ketika suatu saat kematian menjemput mereka. Mereka justru menyambut kematian itu dengan rasa suka-cita, dengan senyum tulus sebagai bentuk sambutan hangat atas datangnya takdir Tuhan tersebut.

Saya jadi teringat akan firman Allah yang kurang lebih isinya menggambarkan bahwa sangat sedikit diantara manusia yang mau mengambil pelajaran dari yang Allah berikan. Pelajaran disini sangat beragam. Salah satunya adalah melalui orang yang pernah mengalami mati suri, mengalami perjalanan spiritual yang panjang yang tidak bisa diterawang melalui logika manusia. Dan percaya atau tidak, orang yang pernah mengalami mati suri, semuanya mengalami perubahan drastis dalam hidupnya. Dari yang awalnya sudah baik jadi lebih semangat lagi melakukan kebaikan. Dari yang awalnya merasa banyak dosa menjadi bertaubat sungguh-sungguh memohon ampunan kepada Tuhan-Nya. Orang yang dalam mati surinya mengalami perjalanan yang indah (bahkan sangat indah karena belum pernah dijumpai waktu di dunia), justru enggan untuk kembali ke dunia. Karena mereka sudah merasa nyaman dengan alam yang indah tersebut. Sebaliknya, orang yang dalam mati surinya mengalami perjalanan yang mengerikan, mereka merasa sangat bersyukur karena telah diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya selama hidup di dunia. Lantas yang menjadi pertanyaan, akankan kita berubah ke arah lebih baik jika sudah mengalami mati suri?? Ya kalau bakal mengalami mati suri, kalau mati beneran? Tentu terlambat bukan?

Kawan, yuk coba kita renungkan, untuk apa sih kita hidup di dunia ini? berapa lama kita akan hidup di dunia? apa saja yang sudah kita perbuat sebagai bekal kita nanti? Kawan, tentu kita masih sangat hafal dengan bacaan ini, “Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil ‘alamin”. Taukah artinya bacaan tersebut?? “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku hanyalah untuk Allah Subhanahu wata’ala.

Kawan, ketika kita sudah mampu memaknai hakikat dari hidup kita ini, itu bisa jadi menandakan bahwa kita sudah mencoba berdamai dengan kematian. Wallahu a’lam.

NB: Bukan bermaksud menggurui atau semacamnya, karena saya hanya ingin sekedar berbagi yang semoga saja bermanfaat bagi diri saya pribadi khususnya, buat kita semua (harapannya),, aamiin

Spread The Love, Share Our Article

Related Posts

No Response to "Kematian"

Post a Comment