Selasa, 15 November 2016

Kisah Syaikh Muhammad al-Ghazali

Sumber: http://liputanislam.com/wp-content/uploads/2014/06/syeikh-al-azhar.jpg
Ulama sekaligus dai produktif asal Mesir yang wafat tahun 1996, Syaikh Muhammad al-Ghazali bercerita, “Seorang wanita berpakaian ‘tak pantas’ masuk ke kantorku. Aku sedikit risih saat melihat penampilannya pertama kali. Namun dari tatapan matanya ia tampak sedih dan kebingungan. Wanita ini patut dikasihani, pikirku. Aku pun duduk, mendengarkan keluh-kesah yang ia sampaikan kepadaku dengan seksama.
Dari sela-sela obrolan tersebut aku tahu bahwa wanita itu adalah pemudi Arab yang mengeyam pendidikan di Prancis, dan nyaris tak mengenal sedikitpun tentang Islam, agama yang ia peluk. Kepadanya, aku berusaha menerangkan hakikat Islam, menjawab sejumlah syubhat dan pertanyaan yang ia ajukan. Serta mengungkap berbagai kedustaan yang disampaikan para orientalis.
Tak lupa pula aku sampaikan terkait peradaban modern yang kerap memposisikan wanita sebagai ‘daging’ pemuas nafsu, yang tak mengenal keindahan, ketenangan, dan makna ‘iffah di dalam keluarga. “Izinkan aku suatu hari untuk kembali ke tempat ini menemuimu, Syaikh,” ujar sang wanita. Ia pun mohon pamit keluar.
Tak lama berselang seorang pemuda berpenampilan religius masuk membentakku, “Apa yang membuat wanita kotor seperti itu datang kemari!?”
Aku jawab, “Tugas seorang dokter adalah menyembuhkan orang yang sakit sebelum orang sehat.”
Ia menyela, “Kenapa kau tak menasehatinya memakai hijab!?”
Aku katakan, “Perkara yang dihadapi wanita tadi jauh lebih besar dari sekadar memakai atau melepas hijab. Ada proses yang harus dilalui, terkait esensi iman kepada Allah dan Hari Kiamat, menegaskan makna taat kepada wahyu yang tertuang dalam al-Quran dan as-Sunnah, serta pilar-pilar inti agama ini dalam aspek ibadah dan akhlak.”
Lagi-lagi ia memotong pembicaraanku. “Bukankah hal-hal tersebut sama sekali bukan halangan bagimu untuk menyuruhnya berhijab!?”
Dengan tenang aku berupaya menjelaskan, bahwa aku tak bisa berbahagia melihat wanita itu datang ke sini sedangkan hatinya sunyi dari keagungan Allah Tuhan yang Maha Esa, hidupnya tak mengenal yang namanya rukuk dan sujud. Sesungguhnya aku sedang berupaya menanam di hatinya sejumlah pondasi yang jika pondasi itu tertancap dengan kuat, dengan sendirinya membuat ia sadar pentingnya menutup aurat.
Saat pemuda tadi hendak memotong pembicaraanku untuk yang kesekian kalinya, aku berkata dengan tegas, “Aku tak mampu menarik orang kepada Islam melalui selembar kain sebagaimana yang kerap kalian lakukan. Namun aku berusaha menancapkan pondasi, lalu memulai membangun di atasnya, dan menyampaikan semuanya dengan penuh hikmah.”
Dua minggu kemudian wanita itu kembali mendatangiku dengan pakaian yang lebih baik dari sebelumnya. Ia menutup kepalanya dengan secarik kain tipis. Ia kembali bertanya tentang Islam, dan akupun kembali menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Lantas aku bertanya, “Mengapa kau tak pergi ke masjid terdekat dari rumahmu (untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini)?”
Meski akhirnya aku menyesal mananyakan hal ini, karena aku teringat bahwa wanita-wanita itu terlarang untuk pergi ke masjid. Namun pemudi itu menjawab, “Aku membenci para dai dan tak ingin mendengarkan ceramahnya.”
“Mengapa?” tanyaku penuh penasaran.
“Hati mereka keras, berwatak kasar. Mereka memperlakukanku dengan pandangan penuh kehinaan.”
Tiba-tiba aku teringat sosok Hindun bintu Utbah, istri Abu Sufyan Ra. Seorang wanita yang di masa kekufurannya membunuh secara sadis serta memakan jantung paman Nabi Sayyidana Hamzah Ra. Saat itu dia belum mengenal Rasulullah Saw. Namun setelah memeluk Islam dan mengenal Rasulullah Saw., ia mendekat dan mengucapkan sebuah kalimat yang menggetarkan hati:
يا رسول الله, والله ما كان على ظهر الأرض أهل خباء أحب أن يذلوا من أهل خبائك, وما أصبح اليوم على ظهر الأرض أهل خباء أحب إلي أن يعزوا من أهل خبائك
“Wahai Rasulullah, Demi Allah, dahulu tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka terhina kecuali penghuni rumahmu. Namun sekarang tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka mulia selain penghuni rumahmu.”
Sungguh cahaya cinta dan kasih sayang yang terpancar dari hati Rasulullah Saw. sanggup mengubah kondisi hati setiap orang yang melihatnya. Maka apakah para dai hari ini telah belajar dari sosok Nabinya, sehingga mereka menjadi dai yang menyatukan, bukan justru memecah-belah? Menjadi dai yang memberikan kabar gembira, bukan justru membuat orang-orang lari dari agama? (Disarikan dari kitab al-Haqq al-Murr (Kebenaran yang Pahit) hal. 23 karya Syaikh Muhammad al-Ghazali).

Sumber: http://www.muslimedianews.com/2016/11/kisah-syaikh-muhammad-al-ghazali-dengan.html

Kamis, 25 Agustus 2016

Counting Period Between Two Dates

Here is sample code C# to count period between two dates:

Console.WriteLine("Enter start date: YYYY/MM/DD");
string s_startDate = Console.ReadLine();
Console.WriteLine("Enter end date: YYYY/MM/DD");
string s_endDate = Console.ReadLine();
DateTime startDate = Convert.ToDateTime(s_startDate);
DateTime endDate = Convert.ToDateTime(s_endDate);

//Add 1 day because of including the first day
endDate = endDate.AddDays(1);

double countMonth = (endDate.Month + endDate.Year * 12) - (startDate.Month + startDate.Year * 12);

//The divisor, I used 30 (option), you can use total days of the month if needed;
double months = countMonth + ((double)(endDate.Day - startDate.Day) / 30);
            
//Rounding into 2 decimals
decimal result = Math.Round((decimal)months, 2);
Console.WriteLine();
Console.WriteLine("Total of Period: " + result.ToString());
Console.ReadKey();

Selasa, 12 April 2016

Install Acumatica versi 5.2 di Windows 10

Acumatica sekarang sudah merilis versi terbarunya yakni versi 5.3 dengan berbagai versi minornya. Versi 5.3 ini pun dapat kita install dengan mudah di Windows 10 (tanpa ada issue dengan catatan IIS sudah diaktifkan). Namun ketika kita dihadapkan pada kondisi development dilakukan diversi sebelumnya (misalkan 5.2), issue baru muncul ketika kita melakukan instalasi aplikasi acumatica di Windows 10. Jika dilihat error yang muncul, installer Acumatica membutuhkan versi IIS 7 atau lebih, padahal Windows 10 sudah dibekali dengan IIS yang lebih tinggi yakni IIS versi 10.

Jika Anda mengalami masalah serupa yakni tidak bisa melakukan instalasi Acumatica versi 5.2 di Windows 10, Anda dapat mencoba solusi berikut:

  1. Download Orca tool disini.
  2. Buka file installler Acumatica versi 5.2 yang tidak bisa diinstall menggunakan Orca tool (Klik kanan file installer_Acumatica > Open with Orca).
  3. Setelah window Orca muncul, pada bagian Launch Condition, hapus entry IISVERSION >="#7"; system does a string comparison and "10" is smaller than "7".
  4. Kemudian save file dan tutup Orca.
  5. Sekarang Anda bisa mencoba kembali dengan running setup installer Acumatica.
Semoga bermanfaat.

Minggu, 29 Maret 2015

Aku Mau Jadi Orang yang Bertepuk Tangan di Tepi Jalan


“Di kelasnya ada 50 orang murid. Setiap kenaikan kelas, anak perempuanku selalu mendapat ranking ke-23. Lambat laun ia dijuluki dengan panggilan nomor ini. Sebagai orangtua, kami merasa panggilan ini kurang enak didengar, namun anehnya anak kami tidak merasa keberatan dengan panggilan ini.
Pada sebuah acara keluarga besar, kami berkumpul bersama di restoran. Topik pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan mereka masing-masing. Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi dokter, pilot, arsitek, bahkan presiden. Semua orang pun bertepuk tangan. Anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya. Didesak orang banyak akhirnya dia menjawab: “…Saat aku dewasa, cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari, lalu bermain-main”. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua. Diapun menjawab: “…Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali. Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan kepadaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak hanya menjadi seorang guru TK?
Anak kami sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik, tidak lagi membuat origami, tidak lagi banyak bermain. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan. Dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak bisa bertahan lagi terserang flu berat dan radang paru-paru. Akan tetapi hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kami memang sangat sayang pada anak kami, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.
Pada suatu minggu, teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan kebolehannya. Anak kami tidak punya keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira. Dia seringkali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.
Ketika makan, ada satu kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki teman kami, satunya si jenius matematika, satunya lagi ahli bahasa inggris berebut sebuah kue. Tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Para orangtua membujuk mereka, namun tak berhasil. Terakhir anak kamilah yang berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk berdamai.
Ketika pulang, jalanan macet. Anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing. Mereka terlihat begitu gembira.
Selepas ujian semester, aku menerima telepon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau rangking sekolah anakku tetap 23. Namun dia mengatakan ada satu hal yang aneh terjadi. Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan yaitu SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI & APA ALASANNYA. Semua teman sekelasnya menuliskan nama ANAKKU. Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang, selalu memberi semangat, selalu menghibur, selalu enak diajak berteman, dan banyak lagi. Si wali kelas memberi pujian: “Anak ibu ini kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.
Saya bercanda pada anakku, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan”. Anakku yang sedang merajut selendang leher tiba-tiba menjawab: “Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”. “IBU,.. AKU TIDAK MAU JADI PAHLAWAN, AKU MAU JADI ORANG YANG BERTEPUK TANGAN DI TEPI JALAN”. Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika. Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku. Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan. Namun anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat. Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi ia-lah yang mengokohkan. Jika ia bisa sehat, jika ia bisa hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hatinya, MENGAPA ANAK-ANAK KITA TIDAK BOLEH MENJADI SEORANG BIASA YANG BERHATI BAIK DAN JUJUR??   “

(Cerita ini diambil dari salah 1 grup Whatsap)

Saya sebetulnya sudah pernah menjumpai tulisan serupa sejak lama, tapi sekarang tertarik untuk menuliskannya kembali. Banyak hal yang saya dapatkan dari cerita diatas, yang kemudian akan coba saya rangkum dalam sebuah kesimpulan (versi saya). Terus terang, dari semenjak kecil dulu hingga dewasa sekarang, saya memiliki cita-cita yang cenderung dinamis. Berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Mungkin salah satu penyebabnya karena mendapat banyak pelajaran, pengalaman dari orang yang saya jumpai atau bahkan dari lingkungan yang pernah saya tinggali. Dahulu saya mencita-citakan ingin menjadi orang kaya yang punya ini itu, apa yang saya inginkan bisa saya dapatkan. Tapi agaknya sekarang cita-cita itu sudah bergeser ke cita-cita yang lain (seperti apa cukup saya yang tau ). Jadi kesimpulan saya, sebenarnya apapun cita-cita kita tidak ada yang salah asal bukan menjadi penjahat. Menjadi dokter, pilot, polisi, guru, atau bahkan presiden semuanya tidak salah. Yang terpenting, tetaplah menjadi pribadi yang baik dan menyenangkan untuk orang lain. Dari orang-orang baik inilah nantinya akan terlahir dokter yang baik, pilot yang baik, polisi yang baik, guru yang baik, hingga presiden yang baik. Karena sejatinya, orang baik akan cenderung selalu memberikan efek positif untuk orang-orang disekitarnya.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah Shallallahualaihiwassalam bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Rabu, 10 September 2014

Trip ke Pulau Tidung

Indonesia memang bisa dibilang ‘sarang’nya wisata. Mulai dari wisata sejarah, wisata kuliner, hingga wisata alam. Makanya tak jarang baik wisatawan lokal hingga mancanegara tak segan merogoh kocek dalam-dalam demi bisa menikmati wisata yang berada di Indonesia. Dan alhamdulillah, akhir Agustus kemarin saya berkesempatan menikmati salah 1 wisata alam yang berada di Kepulauan Seribu, yaitu Pulau Tidung. Pulau yang merupakan pulau terbesar dari gugusan pulau di Kepulauan Seribu ini memang tak pernah sepi terutama ketika akhir pekan. Bagaimana tidak, bagi kebanyakan orang yang tiap harinya disibukkan dengan kegiatan di ibukota, pulau ini bisa menjadi salah 1 alternatif untuk tempat melepas penat yang cukup mudah dijangkau dari ibukota.
Saya beserta rombongan berangkat ke Pulau Tidung dari Bogor. Ya Bogor, karna kami memang hampir semuanya mahasiswa di salah 1 perguruan tinggi negeri di Kota Hujan, jadi tentu lebih mudah untuk berkumpulnya jika di Bogor. Ohya, rombongan kami total berjumlah 11 orang, ada saya, Nita, Andini, Dil, Khalid, Bachtiar, Intan, Dinar, Alfi, Riski, dan Cahya. Kami berkumpul sekitar jam 3 pagi kemudian berangkat pukul 03.30 dengan menyewa angkutan kota menuju Muara Angke. Ohya, pada trip ini kami menggunakan jasa salah 1 travel yang kebetulan salah 1 pemiliknya kakak kelas saya sendiri, jadi sedikit lebih mudah dan enak dalam ‘akses’nya. Meeting point-nya di Muara Angke jam 6 pagi.
Setelah sampai di Muara Angke, kami dijemput salah seorang ABK untuk menuju kapal. Kapal berangkat menuju Pulau Tidung sekitar pukul 7 pagi. Dan perjalanan Muara Angke ke Pulau Tidung lebih kurang membutuhkan waktu tempuh 2,5 jam. Cukup lama memang, namun jika dipakai tidur di kapal rasanya tidak akan terasa lama, hehe. Pukul 09.30, akhirnya kami sampai juga di Dramaganya Pulau Tidung.
Seturunnya dari kapal, kami langsung dijemput oleh tour guide yang akan memandu trip kami selama di Pulau Tidung. Pak Masdar namanya. Beliau penduduk asli di Pulau Tidung ini, orangnya sangat ramah dan ‘ngakrabi’ kalau dalam bahasa jawa. Kami langsung menuju penginapan untuk istirahat sholat makan dan mempersiapkan diri untuk agenda pertama di Pulau ini.

IMG_4727
Jalan menuju penginapan
Ohya, pada saat ishoma ini acaranya bebas, bisa memilih istirahat di penginapan saja atau bisa berkeliling pulau menggunakan sepeda yang telah disediakan. Ya, sepeda sudah menjadi 1 paket dengan penginapan, jadi Anda bisa bersepeda kapan saja kalau mau. Setelah jam 1 siang, Pak Dar menjemput kami untuk mulai berkeliling mencicipi wisata-wisata yang berada di sekitar Pulau Tidung.

P8300002
Persiapan
P8300004
P8300005
P8300008

Dan perjalanan pun dimulai…

IMG_4731
P8300010
P8300011
IMG_4748
IMG_4779
IMG_4740
IMG_4751
Pemandangan Jembatan Cinta dari kejauhan
Tempat yang menjadi tujuan pertama kami adalah Pulau Payung. Pulau Payung merupakan salah 1 spot snorkeling di sekitar Pulau Tidung. Jika Anda berlibur ke pantai, snorkeling merupakan salah 1 agenda yang mesti Anda coba (jika memang terdapat spot untuk snorkeling). FYI, snorkeling merupakan aktivitas menikmati bawah laut dengan menggunakan Alat Dasar Selam (masker, snorkel, fin, dan pelampung jika dibutuhkan). Snorkeling ini memang kegiatan yang paling saya tunggu. Ya, selain karna memang sudah menjadi hobi saya bermain di air, saya juga ingin mencoba alat baru saya, yaitu casing HP anti air untuk mengambil gambar dari bawah air, hihihi. Dan wow, rada susah juga ternyata memainkan smartphone dari bawah air. Entah menjadi irresponsible touchscreen-nya, atau yang dipencet apa yang keluar apa, hehe. Tapi tak kehabisan akal, langsung saja saya naik ke atas, terus mengubah mode kamera ke mode video dan langsung saja merekamnya. Dari sini udah deh langsung eksplor pemandangan bawah laut dengan ‘nenteng’ smartphone untuk mengabadikannya, wewwwww benar-benar menjadi pengalaman tersendiri, hehe.
[Video menyusul (sedang dalam tahap edited, hehe)]
Setelah puas nyobain alat baru tadi, saya baru ingat kalo belum sempat foto-foto menggunakan underwater camera punya Pak Dar, huhu. Dan saya lihat juga Pak Dar masih disibukkan oleh permintaan foto dari teman-teman saya. Sembari menunggu, saya coba eksplor lagi sekitar kapal sekalian nyari spot yang bagus untuk nyelem bentar dan foto. Dan hasilnya alhamdulillah, taraaaaaaaaa…

P8300042
P8300027
P8300028
P8300022
P8300036
P8300052
P8300015
P8300050
P8300055

Setelah lebih kurang 2 jam kami menikmati keindahan bawah laut pulau payung, agenda selanjutnya adalah ke Jembatan Cinta. Jika Anda masih belum puas dengan aktivitas snorkeling, mungkin di Jembatan Cinta inilah feel Anda dapat terpuaskan. Di Jembatan Cinta ini kita bisa ‘bermain’ loncat dari jembatan ke laut, foto-foto, hingga bermain banana boats dan sebagainya. Untuk sekali naik banana boats dikenakan biaya Rp 35.000,- per orang. Saya pribadi sih lebih tertarik loncat di jembatannya, hehe. Selain karna gratis, ‘aktivitas’ ini mengingatkan masa-masa kecil saya dulu. Ya, dulu sewaktu kecil, teman-teman saya suka banget loncat ke sungai dari ketinggian tertentu. Namun sayangnya saat itu saya sendiri belum berani ikutan loncat. Tidak lain dan tidak bukan karna saya belum bisa berenang, hehe. Dan alhamdulillah, sekarang saya bisa mencobanya sendiri dengan loncat ke laut dari Jembatan Cinta, hihihi.

IMG_4786
IMG_4812
IMG_4817
IMG_4791
IMG_4845
P8300057

Usai bermain-main di jembatan Cinta, selanjutnya adalah saatnya berburu sunset di Pulau Tidung. Kami kembali ke penginapan terlebih dahulu dan langsung mengambil sepeda menuju lokasi sunset-nya matahari di Pulau Tidung. Kayuh, kayuh, dan kayuh. melewati perumahan penduduk, alas dan sebagainya akhirnya tiba juga di lokasinya tepat waktu. Dan sekarang adalah saatnyaaaaaaa… foto-foto, hehe.

WP_20140830_17_27_20_Pro
WP_20140830_17_34_57_Pro
WP_20140830_17_36_27_Pro
IMG_4935
Foto di samping sepeda masing-masing usai menikmati sunset

Setelah lebih kurang 15 menit puas menikmati sunset dan hari juga sudah mulai gelap, kami pun kembali lagi ke penginapan untuk istirahat sholat makan. Capek banget memang, tapi sungguh puas banget menikmati keindahan pulau ini. Habis isya’ kita lanjut ke acara berikutnya yakni bakar-bakar. Hmmmmm,,, lengkap bener agenda hari ini. Setelah seharian menguras tenaga dalam rangka eksplor keindahan Pulau Tidung, sekarang adalah saatnya memanjakan perut, mantaaaap.

IMG_4949
IMG_4952
IMG_4971
IMG_4999

Setelah kenyang BBQ-an, adalah saat yang tepat untukkkk tepar,, haha.
Keesokan harinya masih ada agenda guys, yakni gilirannya berburu sunrise. Nah, untuk lokasinya sendiri adalah di Jembatan Cinta. Namun sayangnya, di awal-awal mataharinya ga terlihat alias tertutup awan mendung. Tapi tak apa-lah, yang penting masih bisa menikmati pemandangan alam sekitar dan foto-foto, hehe.

IMG_5002
IMG_5058
IMG_5045
WP_20140831_06_16_45_Pro
WP_20140831_06_19_25_Pro

Setelah cukup puas berfoto-foto, beberapa teman saya kembali berbasah-basahan dengan bermain banana boats dan sejenisnya.

IMG_5078
IMG_5083
IMG_5096

Puas maen-maennya, kami pun kembali ke penginapan untuk istirahat sejenak dilanjut dengan packing persiapan pulang.

IMG_5120
IMG_5121
IMG_5122
IMG_5123
IMG_5124
IMG_5125
IMG_5133
IMG_5143

Oke, sekian dulu ya ceritanya. Special thanks untuk temen-temen yang ikut trip ini, unlimited tour yang sudah mengantarkan kami kesini, Mas Jempol yang menjemput dan mengantarkan kami ke kapal, Pak Masdar atas pelayanannya yang super selama di Pulau Tidung, dan Pulau Tidung sendiri yang telah memberikan suguhan istimewa kepada kami semua. Terimakasih Ya Tuhan telah engkau perkenankan kepada kami untuk menikmati salah 1 keindahan ciptaan-Mu. Sampai jumpa di cerita jalan-jalan berikutnya… Smile