Friday, September 22, 2017

Cara Membuat Widget Whatsapp di Website

Widget Whatsapp
Bagi Anda yang sudah memiliki website sendiri, ada sebuah fitur menarik dari whatsapp yang bisa Anda pasang di web Anda sendiri secara mudah. Hampir semua pengguna smartphone tentu sudah tidak asing lagi dengan whatsapp (WA). Bahkan, gara-gara keberadaan WA ini, sms jadi jarang dipakai.
Nah, fitur yang disediakan oleh whatsapp ini adalah sebuah widget dimana widget ini apabila kita pasang di web kita, ketika orang lain membuka web kita dengan smartphone-nya, orang tersebut bisa langsung berkomunikasi dengan kita dengan klik widget ini tanpa save nomor terlebih dahulu. Tidak percaya? Yuk langsung praktikkan saja di web-nya masing-masing ya..

  1. Buka link Whatsapp Widget.
  2. Klik Get Your Button.
  3. Pilih aplikasi Whatsapp (boleh ditambah aplikasi yang lain jika mau) dan isikan nomor WA yang digunakan.
  4. Pada Customize your button bisa Anda isi sesuai keinginan Anda, preview dari widgetnya bisa dilihat disamping kanan.
  5. Jika sudah, pada Add the code to your website isikan email Anda dan Get Button Code.
  6. Langkah terakhir, tambahkan code hasil generate tadi kedalam website Anda sebelum tag
.

Video terkait: 

Monday, July 31, 2017

Cara Membuat Project Baru di Acumatica versi 4.20.1104

Berikut langkah-langkah mengenai cara membuat project baru di Acumatica versi 4.20.11.04:
  1. Buka Acumatica ERP Configuration Wizard dan klik Deploy New Application Instance untuk membuat project Acumatica baru.

  2. Klik Next.
  3. Buat database baru TSParking > Next.

  4. Insert data Demo > Next.

  5. Selanjutnya Next > Next > Next > Next > Finish.
  6. Buka project Acumatica yang telah dibuat dengan cara klik Perform Application Maintenance > pilih TSParking > klik Launch,

    masukkan username: admin , password: setup dan masukkan password baru.

Tutorial Acumatica

Pada postingan kali ini, saya akan sedikit berbagi tutorial bagaimana membuat custom di Acumatica mulai dari custom screen standard, membuat screen baru, hingga membuat report. Maaf jika bahasanya campur aduk dengan bahasa inggris, karena ada beberapa kata yang jadi aneh jika diterjemahkan ke indonesia, terlebih istilah-istilah di Acumatica. Di tutorial ini saya menggunakan Acumatica versi 4.20.1104 (versi lama). Teman-teman tidak perlu khawatir, karena konsepnya sama dengan Acumatica versi terbarunya, terutama ketika membuat screen baru. Kalau untuk custom screen standard ada perbedaan memang, tapi justru di Acumatica versi terbaru, customnya lebih enak.

Disini saya tidak langsung menuliskan tutorialnya menyeluruh, karena jika dijadikan 1 di tulisan ini akan menjadi panjang sekali (versi word-nya saja ada 64 halaman). Jadi saya hanya meringkasnya menjadi beberapa sub bab seperti berikut:
  1. Pembuatan project di Acumatica versi 4.20.1104
  2. Customization on Grid Screen
  3. Customization on Form Screen
  4. Customization on Transaction Screen
  5. Add Validation on Standart Screen
  6. Perancangan Site Map TSParking
  7. Pembuatan Pages Building Maintenance
  8. Pembuatan Page Transportation Type Maintenance
  9. Pembuatan Page Generate Parking Invoice
  10. Pembuatan page Parking Invoice Inquiry
  11. Pembuatan Report Parking Invoice
  12. Package Customization Project

Tuesday, July 18, 2017

Tutorial Laravel - Menghilangkan 'public' dari Url Laravel

Pada tutorial sebelumnya mengenai Cara Membuat Project Laravel Baru sempat saya singgung bahwa ketika kita membuat project/ site baru di laravel, maka ketika kita ingin mengaksesnya ada tambahan public pada url. Nah di kesempatan kali ini saya akan membahas bagaimana cara menghilangkan 'public' ini dari url sehingga ketika kita ingin mengakses cukup http://localhost/nama_project . Berikut langkah-langkahnya:

  1. Masuk kedalam folder project Laravel yang telah kita buat. Kemudian buat sebuah folder baru dengan nama bebas sesuai keinginan Anda (namanya bisa dibuat sama dengan nama projectnya).
  2. Pindahkan (Cut) semua file & folder kecuali folder public kedalam folder yang baru dibuat tadi.
  3. Selanjutnya, keluarkan (Cut) semua file & folder yang ada di dalam folder public ke root project laravel.
  4. Buka file index.php menggunakan text editor dan lakukan sedikit perubahan pada bagian berikut

    require _DIR_ '/../bootstrap/autoload.php'; menjadi require _DIR_ '/nama_folder_baru/bootstrap/autoload.php';
    $app = require_once _DIR_ '/../bootstrap/app.php'; menjadi $app = require_once _DIR_ '/nama_folder_baru/bootstrap/app.php';
  5. Save. Sekarang Anda bisa coba mengakses menggunakan url tanpa public.
Video terkait:

Monday, July 17, 2017

Tutorial Laravel - Cara Membuat Project Laravel Baru

Laravel merupakan salah satu framework PHP yang sangat menarik untuk dipelajari. Anda bisa melakukan googling untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dari framework yang 1 ini. Jika sebelumnya Anda sudah pernah menguasai salah 1 framework di PHP, maka bukanlah hal yang sulit untuk mempelajari framework yang lain. Di postingan ini saya akan berbagi sedikit ilmu mengenai bagaimana membuat project baru di laravel.
  1. Sebelum membuat project baru di laravel, pastikan terlebih dahulu bahwa di komputer Anda sudah terinstall web service lokal (Anda bisa menggunakan xampp, wampp, atau aplikasi lainnya yang sejenis) dan composer (bisa didownload disini).
  2. Buka Command Prompt, kemudian arahkan ke folder localhost Anda (jika menggunakan xampp biasanya berada di C:/xampp/htdocs).
  3. Ketik syntax berikut dan enter

    composer create-project --prefer-dist laravel-laravel nama_project
  4. Tunggu hingga proses selesai. Jika sudah, Anda bisa membuka browser lalu akses melalui url http://localhost/nama_project/public
  5. Sebagai tambahan informasi, ketika kita membuat project laravel baru, secara default ketika kita ingin mengakses projectnya menggunakan url 'public' di bagian belakang.
Video terkait:



Sekian, terimakasih.

Monday, January 9, 2017

Export Table Schema & Data in SQL Server

This is steps how to export table schema including data in SQL Server 2014.

  1. Open SQL Management Studio then connect to your server name.
  2. Right click of database of table that you want to export > Tasks > Generate Scripts..
  3. At the Generate and Publish Script window, click Next, then you can select to the table you want to export by choose Select specific database object and checklist the table.

  4. Click Next. You can rename the name of script by change it in File name field. Then click Advanced option, scroll down until find Types of data script. Change the value to Schema and Data and OK.
  5. Click Next > Next (prosess will appear) > Finish.

Tuesday, November 15, 2016

Kisah Syaikh Muhammad al-Ghazali

Sumber: http://liputanislam.com/wp-content/uploads/2014/06/syeikh-al-azhar.jpg
Ulama sekaligus dai produktif asal Mesir yang wafat tahun 1996, Syaikh Muhammad al-Ghazali bercerita, “Seorang wanita berpakaian ‘tak pantas’ masuk ke kantorku. Aku sedikit risih saat melihat penampilannya pertama kali. Namun dari tatapan matanya ia tampak sedih dan kebingungan. Wanita ini patut dikasihani, pikirku. Aku pun duduk, mendengarkan keluh-kesah yang ia sampaikan kepadaku dengan seksama.
Dari sela-sela obrolan tersebut aku tahu bahwa wanita itu adalah pemudi Arab yang mengeyam pendidikan di Prancis, dan nyaris tak mengenal sedikitpun tentang Islam, agama yang ia peluk. Kepadanya, aku berusaha menerangkan hakikat Islam, menjawab sejumlah syubhat dan pertanyaan yang ia ajukan. Serta mengungkap berbagai kedustaan yang disampaikan para orientalis.
Tak lupa pula aku sampaikan terkait peradaban modern yang kerap memposisikan wanita sebagai ‘daging’ pemuas nafsu, yang tak mengenal keindahan, ketenangan, dan makna ‘iffah di dalam keluarga. “Izinkan aku suatu hari untuk kembali ke tempat ini menemuimu, Syaikh,” ujar sang wanita. Ia pun mohon pamit keluar.
Tak lama berselang seorang pemuda berpenampilan religius masuk membentakku, “Apa yang membuat wanita kotor seperti itu datang kemari!?”
Aku jawab, “Tugas seorang dokter adalah menyembuhkan orang yang sakit sebelum orang sehat.”
Ia menyela, “Kenapa kau tak menasehatinya memakai hijab!?”
Aku katakan, “Perkara yang dihadapi wanita tadi jauh lebih besar dari sekadar memakai atau melepas hijab. Ada proses yang harus dilalui, terkait esensi iman kepada Allah dan Hari Kiamat, menegaskan makna taat kepada wahyu yang tertuang dalam al-Quran dan as-Sunnah, serta pilar-pilar inti agama ini dalam aspek ibadah dan akhlak.”
Lagi-lagi ia memotong pembicaraanku. “Bukankah hal-hal tersebut sama sekali bukan halangan bagimu untuk menyuruhnya berhijab!?”
Dengan tenang aku berupaya menjelaskan, bahwa aku tak bisa berbahagia melihat wanita itu datang ke sini sedangkan hatinya sunyi dari keagungan Allah Tuhan yang Maha Esa, hidupnya tak mengenal yang namanya rukuk dan sujud. Sesungguhnya aku sedang berupaya menanam di hatinya sejumlah pondasi yang jika pondasi itu tertancap dengan kuat, dengan sendirinya membuat ia sadar pentingnya menutup aurat.
Saat pemuda tadi hendak memotong pembicaraanku untuk yang kesekian kalinya, aku berkata dengan tegas, “Aku tak mampu menarik orang kepada Islam melalui selembar kain sebagaimana yang kerap kalian lakukan. Namun aku berusaha menancapkan pondasi, lalu memulai membangun di atasnya, dan menyampaikan semuanya dengan penuh hikmah.”
Dua minggu kemudian wanita itu kembali mendatangiku dengan pakaian yang lebih baik dari sebelumnya. Ia menutup kepalanya dengan secarik kain tipis. Ia kembali bertanya tentang Islam, dan akupun kembali menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Lantas aku bertanya, “Mengapa kau tak pergi ke masjid terdekat dari rumahmu (untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini)?”
Meski akhirnya aku menyesal mananyakan hal ini, karena aku teringat bahwa wanita-wanita itu terlarang untuk pergi ke masjid. Namun pemudi itu menjawab, “Aku membenci para dai dan tak ingin mendengarkan ceramahnya.”
“Mengapa?” tanyaku penuh penasaran.
“Hati mereka keras, berwatak kasar. Mereka memperlakukanku dengan pandangan penuh kehinaan.”
Tiba-tiba aku teringat sosok Hindun bintu Utbah, istri Abu Sufyan Ra. Seorang wanita yang di masa kekufurannya membunuh secara sadis serta memakan jantung paman Nabi Sayyidana Hamzah Ra. Saat itu dia belum mengenal Rasulullah Saw. Namun setelah memeluk Islam dan mengenal Rasulullah Saw., ia mendekat dan mengucapkan sebuah kalimat yang menggetarkan hati:
يا رسول الله, والله ما كان على ظهر الأرض أهل خباء أحب أن يذلوا من أهل خبائك, وما أصبح اليوم على ظهر الأرض أهل خباء أحب إلي أن يعزوا من أهل خبائك
“Wahai Rasulullah, Demi Allah, dahulu tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka terhina kecuali penghuni rumahmu. Namun sekarang tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka mulia selain penghuni rumahmu.”
Sungguh cahaya cinta dan kasih sayang yang terpancar dari hati Rasulullah Saw. sanggup mengubah kondisi hati setiap orang yang melihatnya. Maka apakah para dai hari ini telah belajar dari sosok Nabinya, sehingga mereka menjadi dai yang menyatukan, bukan justru memecah-belah? Menjadi dai yang memberikan kabar gembira, bukan justru membuat orang-orang lari dari agama? (Disarikan dari kitab al-Haqq al-Murr (Kebenaran yang Pahit) hal. 23 karya Syaikh Muhammad al-Ghazali).

Sumber: http://www.muslimedianews.com/2016/11/kisah-syaikh-muhammad-al-ghazali-dengan.html

Thursday, August 25, 2016

Counting Period Between Two Dates

Here is sample code C# to count period between two dates:

Console.WriteLine("Enter start date: YYYY/MM/DD");
string s_startDate = Console.ReadLine();
Console.WriteLine("Enter end date: YYYY/MM/DD");
string s_endDate = Console.ReadLine();
DateTime startDate = Convert.ToDateTime(s_startDate);
DateTime endDate = Convert.ToDateTime(s_endDate);

//Add 1 day because of including the first day
endDate = endDate.AddDays(1);

double countMonth = (endDate.Month + endDate.Year * 12) - (startDate.Month + startDate.Year * 12);

//The divisor, I used 30 (option), you can use total days of the month if needed;
double months = countMonth + ((double)(endDate.Day - startDate.Day) / 30);
            
//Rounding into 2 decimals
decimal result = Math.Round((decimal)months, 2);
Console.WriteLine();
Console.WriteLine("Total of Period: " + result.ToString());
Console.ReadKey();

Tuesday, April 12, 2016

Install Acumatica versi 5.2 di Windows 10

Acumatica sekarang sudah merilis versi terbarunya yakni versi 5.3 dengan berbagai versi minornya. Versi 5.3 ini pun dapat kita install dengan mudah di Windows 10 (tanpa ada issue dengan catatan IIS sudah diaktifkan). Namun ketika kita dihadapkan pada kondisi development dilakukan diversi sebelumnya (misalkan 5.2), issue baru muncul ketika kita melakukan instalasi aplikasi acumatica di Windows 10. Jika dilihat error yang muncul, installer Acumatica membutuhkan versi IIS 7 atau lebih, padahal Windows 10 sudah dibekali dengan IIS yang lebih tinggi yakni IIS versi 10.

Jika Anda mengalami masalah serupa yakni tidak bisa melakukan instalasi Acumatica versi 5.2 di Windows 10, Anda dapat mencoba solusi berikut:

  1. Download Orca tool disini.
  2. Buka file installler Acumatica versi 5.2 yang tidak bisa diinstall menggunakan Orca tool (Klik kanan file installer_Acumatica > Open with Orca).
  3. Setelah window Orca muncul, pada bagian Launch Condition, hapus entry IISVERSION >="#7"; system does a string comparison and "10" is smaller than "7".
  4. Kemudian save file dan tutup Orca.
  5. Sekarang Anda bisa mencoba kembali dengan running setup installer Acumatica.
Semoga bermanfaat.

Sunday, March 29, 2015

Aku Mau Jadi Orang yang Bertepuk Tangan di Tepi Jalan


“Di kelasnya ada 50 orang murid. Setiap kenaikan kelas, anak perempuanku selalu mendapat ranking ke-23. Lambat laun ia dijuluki dengan panggilan nomor ini. Sebagai orangtua, kami merasa panggilan ini kurang enak didengar, namun anehnya anak kami tidak merasa keberatan dengan panggilan ini.
Pada sebuah acara keluarga besar, kami berkumpul bersama di restoran. Topik pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan mereka masing-masing. Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi dokter, pilot, arsitek, bahkan presiden. Semua orang pun bertepuk tangan. Anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya. Didesak orang banyak akhirnya dia menjawab: “…Saat aku dewasa, cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari, lalu bermain-main”. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua. Diapun menjawab: “…Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali. Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan kepadaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak hanya menjadi seorang guru TK?
Anak kami sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik, tidak lagi membuat origami, tidak lagi banyak bermain. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan. Dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak bisa bertahan lagi terserang flu berat dan radang paru-paru. Akan tetapi hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kami memang sangat sayang pada anak kami, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.
Pada suatu minggu, teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan kebolehannya. Anak kami tidak punya keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira. Dia seringkali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.
Ketika makan, ada satu kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki teman kami, satunya si jenius matematika, satunya lagi ahli bahasa inggris berebut sebuah kue. Tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Para orangtua membujuk mereka, namun tak berhasil. Terakhir anak kamilah yang berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk berdamai.
Ketika pulang, jalanan macet. Anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing. Mereka terlihat begitu gembira.
Selepas ujian semester, aku menerima telepon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau rangking sekolah anakku tetap 23. Namun dia mengatakan ada satu hal yang aneh terjadi. Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan yaitu SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI & APA ALASANNYA. Semua teman sekelasnya menuliskan nama ANAKKU. Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang, selalu memberi semangat, selalu menghibur, selalu enak diajak berteman, dan banyak lagi. Si wali kelas memberi pujian: “Anak ibu ini kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.
Saya bercanda pada anakku, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan”. Anakku yang sedang merajut selendang leher tiba-tiba menjawab: “Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”. “IBU,.. AKU TIDAK MAU JADI PAHLAWAN, AKU MAU JADI ORANG YANG BERTEPUK TANGAN DI TEPI JALAN”. Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika. Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku. Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan. Namun anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat. Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi ia-lah yang mengokohkan. Jika ia bisa sehat, jika ia bisa hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hatinya, MENGAPA ANAK-ANAK KITA TIDAK BOLEH MENJADI SEORANG BIASA YANG BERHATI BAIK DAN JUJUR??   “

(Cerita ini diambil dari salah 1 grup Whatsap)

Saya sebetulnya sudah pernah menjumpai tulisan serupa sejak lama, tapi sekarang tertarik untuk menuliskannya kembali. Banyak hal yang saya dapatkan dari cerita diatas, yang kemudian akan coba saya rangkum dalam sebuah kesimpulan (versi saya). Terus terang, dari semenjak kecil dulu hingga dewasa sekarang, saya memiliki cita-cita yang cenderung dinamis. Berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Mungkin salah satu penyebabnya karena mendapat banyak pelajaran, pengalaman dari orang yang saya jumpai atau bahkan dari lingkungan yang pernah saya tinggali. Dahulu saya mencita-citakan ingin menjadi orang kaya yang punya ini itu, apa yang saya inginkan bisa saya dapatkan. Tapi agaknya sekarang cita-cita itu sudah bergeser ke cita-cita yang lain (seperti apa cukup saya yang tau ). Jadi kesimpulan saya, sebenarnya apapun cita-cita kita tidak ada yang salah asal bukan menjadi penjahat. Menjadi dokter, pilot, polisi, guru, atau bahkan presiden semuanya tidak salah. Yang terpenting, tetaplah menjadi pribadi yang baik dan menyenangkan untuk orang lain. Dari orang-orang baik inilah nantinya akan terlahir dokter yang baik, pilot yang baik, polisi yang baik, guru yang baik, hingga presiden yang baik. Karena sejatinya, orang baik akan cenderung selalu memberikan efek positif untuk orang-orang disekitarnya.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah Shallallahualaihiwassalam bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)